Tidur Siang di Bulan Ramadhan Yang ‘Summer’

Dari sejak duduk di bangku sekolah dasar, sudah sering diajarkan bahwa tidurnya orang yang puasa adalah ibadah, dengan kalkulasi matematik seperti ini, kalo tidurnya aza sudah terhitung ibadah, apatah lagi puasa disambi mengerjakan ibadah2 yang lain semisal membaca qur’an dan lain-lain. Di lain sisi pengajaran model ini turut mensupport semangat mengerjakan puasa di kalangan anak-anak (ngga tahu ya berapa persen supportnya, at least mirip2 dengan pengajaran puasa setengah hari).Di jenjang pendidikan berikutnya, saat sedikit demi sedikit sudah diajarkan aksara arab dan pemahaman hadits, diperkenalkan hadits نوم الصائم عبادة , dari hadist yang amat populer di kalangan para muballigh ini, peran tidur mulai ‘menguat’ dari yg awalnya diajarkan sebagai semangat menjalani puasa (dengan komparasi ibadah lainnya) akhirnya dijalani sebagai ‘ibadah mustaqillah’ karena adanya dalil ini.

Ah, ternyata Hadits ini ‘dhoif’ (untuk lebih jelasnya, buka takhrijnya Iroqi atas Ihya), dengan dhoifnya hadits ini awalnya terpikir sudah tidak ada justifikasi untuk tidur di siang Ramadhan, ternyata ada atsar dari banyak shahabat seputar tidur siang ini, diantaranya dari Muadz bin Jabal dan Anas : إني لأحتسب في نومتي كما أحتسب في قومتي dan memang selalu saja ada celah untuk mengamalkan ‘ibadah mustaqillah’ tidur di siang Ramadhan, apalagi ditunjang cuaca yg masih panas ini.

AB Hikam

AB Hikam

pemarah berhati lembut, pelayan santri, sehari-hari dapat ditemui di PP Darusssalam
AB Hikam

Latest posts by AB Hikam (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.