Kopi Part II

Konon, biji kopi hijau adalah komoditi yang paling banyak diperjualbelikan di seluruh dunia bersamaan dengan minyak mentah dan emas. Di Ethiopia, kampung asal kopi orang menyebut biji kopi dengan nama Bunna (Boona). Di Yaman, tempat dimana akhirnya kopi menyebar ke berbagai penjuru dunia, orang menyebut biji kopi dengan nama Bunn. Di kampungnya sana, di Ethiopia sejak dahulu orang sudah terbiasa mengunyah dan mengonsumsi biji kopi mentah-mentah, penyajian kopi dengan teknik di seduh baru populer sekitar abad ke 9 Hijriyah / 15 Masehi. Orang Arab menyebut minuman kopi dengan nama Qahwah, lalu dialek Turki mengadopsinya dengan nama Kahveh, yang kemudian belakangan menjadi Koffie dalam bahasa Belanda dan Coffee dalam bahasa Inggris.

Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi Kopi. Bisa jadi penamaan kopi juga berasal dari kampungnya sana, bukan kebetulan jika daerah kopi berasal di Ethiopia bernama Kaffa.

Toh sejatinya diksi Qahwah bukan kata yang baru dalam literatur Arab, sebelum budaya minum kopi populer di abad 9 H / 15 M, orang arab memakai kata Qahwah untuk menyebut Khamr, saya sempat kaget, tapi yang saya liat dalam kamus memang begitu, Ibnu Manzhur (630-711 H) misalnya dalam Lisanul ‘Arab menyatakan demikian : والقَهْوة: الْخَمْرُ، سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لأَنها تُقْهِي شَارِبَهَا عَنِ الطَّعَامِ أَي تَذْهَبُ بِشَهْوَتِهِ (Lisanul Arab 15:206), faktor nama ini yang di masa polemik kehalal-haraman kopi akhirnya sempat dipertanyakan, lalu ada beberapa Fuqoha yang mewacanakan untuk menamakannya Qihwah (Qaf yang dikasrah) sebagai pembeda dari Qahwah (Qaf yang difathah) yang juga bisa bermakna Khamr. Aih, ada-ada saja

AB Hikam

AB Hikam

pemarah berhati lembut, pelayan santri, sehari-hari dapat ditemui di PP Darusssalam
AB Hikam

Latest posts by AB Hikam (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *