Memory Paling Gokil Ramadhan di Tarim

Sekitar 4-5 tahun yg lalu, saat itu kami (aku, Najib, Burhan, Nadim, A Ilul & Ibrohim bin Yahya) tinggal bersama di rumah tepat di belakang rumah Habib Masyhur (kakak dari Habib Umar bin Hafidz), ah tepatnya rumah itu kami sebut markaz, hampir rata2 kawan2 kuliah, Rubath Tarim dan Darul Mustafa menyempatkan diri mengunjungi rumah kami sekaligus menggunakannya sebagai tempat aman untuk merokok, maklum saja merokok saat itu masih amat tabu sekali. Jangan heran kalau banyak toko masih tidak menjual merokok dan mohon tidak usah marah saat anda harus panjang lebar diberikan kultum gratis bahaya merokok justru oleh penjualnya sendiri.Hidup bersama ahli-ahli hisap di tempat yang agak susah mencari (membeli) rokok tentu butuh seni tersendiri. Seringkali saya pribadi memanage untuk tidak memboroskan amunisi rokok, bukan soal penghematan uang, tapi karena untuk membelinya kembali agak susah, apalagi Tarim sudah sepi sejak jam 9 malam. Satu-satunya alternatif adalah membeli rokok jauh di terminal ujung sana dengan resiko ditanya polisi yang patroli jam malam.

Di bulan Ramadhan, saya punya inisiatif untuk kolektif beli rokok dan disiplin menggunakannya, jadi kami hanya membeli 8 bungkus rokok dengan aturan penghisapan, 4 bungkus di waktu buka dan 4 bungkus di kala sahur, konsumsi di luar jam tadi dipersilakan membeli sendiri-sendiri.

Tapi bukan semua itu yang paling kami ingat dari kebersamaan kami, kebetulan di Ramadhan tahun itu Nadim, Najib, Burhan dan Hamzah al Juneid (tetangga samping rumah) punya niatan untuk membuat kedai bakso, jadilah akhirnya kita memanfaatkan rumah Hamzah untuk berjualan bakso, tempat berjualan memang di rumah Hamzah, tapi semua personil bertempat di rumah kami.

Kedai bakso itu laku amat laris, maklum waktu itu cuma satu-satunya di Tarim, dan ditambah lagi kalo boleh saya gambarkan kedai itu sudah hampir jadi diskotik lokal, ah mungkin saya terlalu lebay menggambarkannya, tapi itu lah penamaan kawan-kawan. Di rumah 2 lantai itu, selain bakso, kawan2 juga menghisap rokok yang juga kita sediakan. Di lantai dasar spesial untuk menikmati bakso, lantai dua untuk hiburan, kami menyediakan kartu remi, domino, gitar dan dua buah tape compo untuk berajeb-ajeb ria. itu pun masih ditambah kawan-kawan yang asyik ngobrol sambil menikmati kopi, teh, juice, extra joss di lantai atap.

Mungkin semuanya sesuatu yang biasa, yg membuatnya tidak biasa adalah karena kejadiannya di Tarim, dengan pelanggan kawan-kawan Rubat Tarim dan Darul Mustafa, saya lupa tepatnya tanggal keberapa, yang saya ingat hari itu adalah khatm mukhdor, kawan-kawan banyak yg datang ke kedai tertutup kami, dan saat itu pun datang, kedai kami dirazia, saya cuma bisa tertawa saat membayangkan kembali betapa hebohnya waktu itu. saat kawan-kawan lari, untuk menghindari razia masing-masing lembaga, sebagian diantaranya bahkan berlari hanya mengenakan celana pendek saja, bahkan saat kami merapikan kembali rumah, kami lihat paling tidak ada banyak pakaian berserakan, dompet, dan beberapa handphone, bahkan ada hp communicator yg saat itu memang terbilang gress, rumah itu pun ditutup, Hamzah kabarnya bahkan sempat diinterogasi pihak berwenang.

AB Hikam

AB Hikam

pemarah berhati lembut, pelayan santri, sehari-hari dapat ditemui di PP Darusssalam
AB Hikam

Latest posts by AB Hikam (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *