Dakwah Berdongeng

hikmah

Anak-anak kecil itu suka sekali kalo diceritakan kisah atau didongengi. Bukan cuma anak kecil, anak-anak remaja juga sama. Bahkan orang tua juga. Seringkali saya memperhatikan orang-orang tua yang ngantuk saat ngaji mendadak antusias saat materi berubah menjadi kisah.Mendongeng, berkisah atau bercerita memang memancing perhatian, sayangnya seringkali untuk improvisasi cerita banyak bumbu yang mesti diolah yang kadang justru lebih banyak bumbu dibanding isi. Tak heran jika di masa pemerintahan sayyidina Ali bin Abi Thalib KRW pernah merazia para pendongeng dari masjid, salah satu yang mendapat lisensi masih boleh mengajar sambil berkisah di masa itu adalah Hasan al Bashri.

Saya termasuk dari sekian banyak orang yang mengandrungi cerita, pernah saking isengnya dalam puasa tamattu’ saya habiskan 3 hari puasa dengan mengkhatamkan Alfu Lailah wa Lailah (robbuna yahdina). Dalam literatur Turats yang berhubungan dengan cerita, kisah atau dongeng adalah buku-buku Tarikh (Sejarah), Maulid, Manaqib, Thabaqat atau Tarajim, Adab atau buku-buku disiplin lain yang diselipi hikayat-hikayat.

Saya ingat betul di masa sekolah dasar buku-buku yang sering saya acak-acak dari perpustakaan orang tua adalah terjemah Durrotun Nasihin, buku ini beberapa kali saya tamatkan dan hingga kini masih belum sempat baca kitab aslinya. Buku ini kalau tidak salah diterjemahkan oleh Salim Bahresy, saya lupa penerbitnya yang jelas tiga jilid dengan cover abu-abu, biru dan merah kecoklatan.

Buku kedua favorit juga saat itu adalah terjemahan Irsyadul Ibad yang juga full stock of story, kalo tidak salah juga diterjemahkan oleh Salim Bahresy dan alhamdulillah akhirnya setelah beberapa tahun sempat kesampaian baca kitab aslinya. Kitab berikutnya yang saya baca saat sudah bisa mengeja kitab gundul adalah Raudhu Rayahin karya Imam Yafi’i, ulama Yaman abad 7 H (698-768 H).

Yang unik adalah bahwa Yafi’i mempunyai salah satu guru sufi yang berasal dari Nusantara yang disebutkannya bernama Mas’ud bin Abdillah Al Jawi. Tak hanya itu, Yafi’i juga menyatakan bahwa Syekh Jawi ini yang awal mulai memakaikannya Khirqa. Khirqa arti aslinya adalah pakaian, kain, atau sobekan kain baju. Dalam istilah Shufi, Khirqah adalah cinderamata sebagai bentuk pensanadan dan pengijazahan dalam tarekat kesufian.

AB Hikam

AB Hikam

pemarah berhati lembut, pelayan santri, sehari-hari dapat ditemui di PP Darusssalam
AB Hikam

Latest posts by AB Hikam (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *