Renungan Asyura

Rasanya malam ini tak ada yang beda dengan malam-malam lainnya, aktifitas berjalan seperti biasa; ta’lim ba’da Maghrib. Kalaupun ada beda, paling hanya karena saat berangkat berbekal 3 butir kurma dan segelas Aqua (berjaga-jaga jika macet dan kemaghriban di jalan), kalaupun ada beda juga paling hanya karena ba’da Isya sama-sama melafalkan berzikir Hasbunallah wa Ni’mal Wakil Ni’mal Maula wa Ni’man¬†Nashir sebanyak 70 x. Ba’da Isya, saat santai bercengkrama dengan kawan-kawan, di antara kepulan asap dan gorengan hangat bercabe rawit, saya baru sadar jika malam Asyura pada 1373 tahun yang lalu (atau 1333 tahun jika menggunakan penanggalan Miladiyah) adalah malam terakhir Imam Husain melaksanakan shalat malamnya.

Sejatinya, sesuai ultimatum dan intruksi Ibnu Ziyad (gubernur Kufah di masa pemerintahan Yazid), penyerangan terhadap Imam Husain dan rombongannya akan dilakukan pada malam 10 Muharram (malam Asyura), tetapi Imam Husein mengutus Abbas bin Ali untuk bernegoisasi dengan kubu Yazid agar menunda penyerangan hingga keesokan harinya, salah satu alasan yang saya baca adalah Imam Husein masih ingin melakukan Qiyamul Lail di malam itu, Subhanallah!!.

Konon rombongan Sayyidina Husain sudah mulai dikepung sejak memasuki Karbala pada 2 Muharram 61 H oleh pasukan Hurr bin Yazid. Sehari setelahnya, tanggal 3 Muharram Ubaidillah bin Ziyad, Gubernur Kufah dinasti Umayyah mengirimkan pasukan tambahan dibawah pimpinan Umar bin Sa’ad untuk mengepung Sayyidina Husain, konon ada 4000 (versi lain ada yang meriwayatkan 30000) jumlah pasukan yang mengepung rombongan Sayyidina Husain yang hanya berjumlah kurang lebih 70 orang termasuk wanita dan anak-anak.

Terhitung sejak 6 Muharram rombongan Sayyidina Husain sudah tidak mendapatkan akses air dari sungai Eufrat karena dihalangi oleh pasukan Ibn Sa’ad, hingga akhirnya Ibn Sa’ad mendapat perintah untuk segera memulai perang pada 9 Muharram malam, yang lalu di respon Sayidina Husein dengan mengutus Abbas bin Ali untuk bernegoisasi dengan pasukan lawan, meminta untuk ditundanya serangan, agar masih bisa melaksanakan Shalat di malam itu.

Pagi harinya, 10 Muharram 61 H / 10 Oktober 680 M, perang berkecamuk antara rombongan Sayyidina Husein berhadapan dengan ribuan pasukan Ubaidillah bin Ziyad, berujung pada syahidnya Imam Husein dan puluhan pengikutnya di padang Karbala.

Toh sebenarnya Ubaidillah bin Ziyad bukan orang asing di mata Imam Husein, ayah Ubaidillah yaitu Ziyad adalah panglima militer populer sejak masa sayyidina Umar RA, di masa pemerintahan ayahanda Imam Husein yaitu Imam ‘Aly KRW, Ziyad adalah loyalis Imam Aly, Ziyad pula yang ditunjuk Imam ‘Aly sebagai gubernur yang membawahi wilayah Bashrah, Kerman dan wilayah regional Persia lainnya, baru setelah wafatnya Imam ‘Aly, Ziyad mengalihkan dukungan politisnya kepada Mu’awiyah yang lalu dibarengi penunjukannya sebagai Gubernur Bashrah dan Kufah.¬†Sejarah berlanjut, putra Ziyad yaitu Ubaidillah juga mengabdi kepada putra Muawiyah yaitu Yazid.

Hingga kini, syahidnya Imam Husein di Karbala masih diperingati. Katanya, jutaan penduduk irak melakukan Long March dari Najaf ke Karbala. Najaf adalah tempat yang dipercaya kaum Syiah sebagai makam Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ayahanda Sayyidina Husein. Jutaan orang melakukan perjalanan sejauh 70 KM dari Najaf ke Karbala berjalan kaki sambil merintih, menangis, dan memukul-mukul dada serta melukai diri menapaktilasi dan mengenang penderitaan Sayidina Hussein. rentetan diorama imaji ini mengingatkan saya satu fakta : bahwa cinta dan politik membutakan banyak hal.

AB Hikam

AB Hikam

pemarah berhati lembut, pelayan santri, sehari-hari dapat ditemui di PP Darusssalam
AB Hikam

Latest posts by AB Hikam (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *